Metamorfosa diri #1
Prolog :D
Dulu aku bermimpi untuk bisa kuliah di IPB, sejak bangku SMA. Namun qodarullah UGM menjadi tempatku untuk melanjutkan menimba ilmu. Awalnya aku sedih bercampur bahagia, tapi semakin hari akhirnya aku harus lebih banyak bersyukur hidup disini.
Pada awal perkuliahan, aku adalah anak yang tidak suka dengan dunia homogen. Mungkin ini adalah kecenderungan dari dulu, karena hampir seluruh fase pendidikanku, aku lewati di lingkungan yang relatif sama sehingga aku selalu mencari dunia dan lingkungan yang berbeda.
Dunia yang dibangunkan untukku adalah dunia agamis yang sangat menjunjung nilai nilai islam, sehingga dimanapun aku berada aku selalu dipilihkan untuk tetap berada pada zona tersebut. Namun, karena berbagai keingintahuanku aku selalu mencoba hal hal diluar yang tidak pernah aku lihat dan aku tau. Hingga aku masuk dalam dunia perkuliahan pun, itu masih menjadi kecenderunganku.
Aku hanya berfikir, aku harus punya banyak teman dari berbagai macam tipe dan lingkungan jadi tidak tertutup hanya dalam lingkungan yang itu itu saja.
Yak, akhirnya dari semester pertama pun aku seperti bola yang ikut kesana dan kemari mengikuti segala lingkungan yang ada. Tapi, lagi lagi ada 'pengikat' yang entah datang dari mana yang jelas Allah kenalkan kepadaku. Sebenernya aku sudah tahu akan selalu berujung seperti ini, akan selalu 'dititipin' dimanapun aku. Bahkan aku tau, aku dipilihkan teman teman yang luar biasa dari awal aku masuk dengan niatan agar aku tetap dalam jalurnya, tapi yak seperti kecenderunganku aku selalu bisa licin mlipir kesana sini.
Aku sangat heran kenapa anak seperti aaku diurusin beneran, diperhatiin. Bahkan siapalah aku yang hina ini berada diantara mereka. Tapi serius aku salut dengan mereka yang sabar sama aku yang akhirnya membukakan semua mataku untuk melihat sekeliling secara utuh yang mungkin selama ini hanya aku lihat dalam satu sudut pandang tanpa memutar arah pandangan sedikitpun. Mereka yang menjadikan aku bisa berhijrah secepat ini dengan segala kecepatan harus berlari tertatih dan ga kenal henti. Bahkan hingga aku menangispun tak ada kata berhenti. Makasih ya mas, mbak kalian telah menjadi perantara ku untuk menjadi seperti ini. Walaupun dulu jilbabku saringan tahu di sampirin ke kepala doang yang akhirnya aku mengerti dengan sendirinya kenapa aku harus seperti ini. Yang dulunya aku nggak tau apa apa, jadi aku harus belajar banyak hal.
Yak, setiap manusia pasti akan mengalami metamorfosa. Entah bagaimanapun bentuknya dimasa lalu, tapi manusia akan selalu punya waktu untuk berbenah untuk jadi lebih baik. Dan semoga Allah selalu sayang kepada kita semua yaa :D

Komentar
Posting Komentar