Kata Umii...
Madrasah pertama bagi seorang anak adalah orangtuanya.
Orangtua sudah menjadi fitrahnya untuk menjadi sosok teladan untuk anaknya Kita sebagai anak akan menjadikan orangtua kita sebagai acuan dalam bertindak dan bersikap. Sangatlah wajar jika karakter dan kepribadian orangtua akan menurun kepada anaknya.
Hal yang paling penting dalam pendidikan anak adalah, bagaimana orangtua itu menanamkan keimanan kepada Allah terhadap anaknya. Anak anak tidak hanya dapat diberi tahu lewat lisan, namun harus dengan cara memberikan contoh sehingga mereka bisa meneladaninya. Untuk bayi dibawah umur 5 tahun, memorinya akan sangat ia pakai untuk mencontoh apa apa yang ia lihat dan dengarkan, jadi nggak jarang dan ga aneh tuh bayi bayi kecil yang udah bisa berperilaku kayak orangtuanya.
Ada sebuah kalimat yang masih aku ingat sampai sekarang, entah aku lupa baca dibuku apa hehe
"Jadikanlah orangtua kita adalah panutan, bukan oranglain. Jadilah orangtua yang pertama mengajarkan tentang agama kepada anaknya, karna ketika anak mengamalkannya maka orangtuanya pun akan dialirkan pahala dari amalan tersebut"
Sebagai orangtua, gamau kan madrasah pertama anaknya adalah oranglain?
Aku punya ponakan nih (masih punyanya ponakan karna belom punya anak sendiri hehe), namahya Azallia umurnya 3 tahun, lagi masa masa meniru apapun yang dia lihat dan dengar. Kita sebagai yang tua harus bener bener banget deh hati hati dalam berakhlak. Gamau kan nanti akhlak buruk ditiru sama anak anak kita? Jangan sampai lah ya. Udah gitu, jurus paling ampuh yang selalu Azalia lakukan adalah "kata bunda". Dari situ pun akhirnya aku berfikir, dia bener bener sadar bahwa teladan anak anak adalah orangtuanya.
Okey, aku gamau cerita panjang lebar tentang Azalia atau mendidik anak, karna aku pun masih banyak belajar untuk menjadi calon orangtua hehe. Cuma pengen cerita sedikir tentang apa yang pernah Umii nasehatin buat aku.
Entah sejak kapan, atau mungkin memang sejak dulu kala aku selalu mudah cerita tentang apa yang ku alami dan kalo minta pendapat atau nasehat tuh sama Umi. Ya walopun Umi nih suka ngirit bicaranya, tapi suka jadi keinget terus gitu sih ya.
Jadi waktu itu, Umii pernah ngajarin tentang tidak berlebihan terhadap segala sesuatu. Disini khususnya adalah dalam hal rizki. Rizki itu bukan hanya sekedar materi, tapi rizki itu adalah segala hal yang Allah berikan kepada kita. Jadi kata Umi kita ga boleh terlalu nggak atau terlalu iya. Maksudnya terlalu nggak itu, belom dapet apa apa udah bilang nggak mau atau kalau terlalu iya itu, serasa kita sudah mendahului takdir Allah, kayak udah yakin pasti dapet gitu. Nah itu kan sama sama hal yang berlebihan, jadi nggak boleh gitu karna Allah tidak menyukai orang yang berlebih - lebihan.
Allah itu udah ngasih rizki yang terbaik untuk HambaNya versi Allah, bukan versi kita. Karna Allah yang lebih mengetahui, kita sebagai hambaNya gatau apa apa tentang itu. Dan yang namanya rizki, itu ga dateng dengan sendirinya tapi perlu kita jemput dengan ikhtiar. Bisa jadi hal yang sangat kita inginkan bukanlah rizki kita, tapi hal yang kita hindari itu rikzki kita. Makanya Umii bilang jangan kita menhindari berlebihan dan menyukai berlebihan. Oke mi, oke. (masih oke doang, prakteknya susah bener ini sebenernya buat aku)
Terus Umi juga bilang, "Kalo minta sama Allah jangan ngedrel (bahasa jawa ini, aku juga susah bahasainnya apa itu, mungkin kayak maksa gitu). Mau minta sama Allah itu nggak maksa, nggak mendikte". Terus kalo misal pengen sesuatu yang itu tep boleh minta itu kan? Boleh, tapi tidak maksa harus itu. Ya berdoa itu perlu detail, tapi tidak mendikte dan memaksa.
Daan, aku oke oke lagi aja. Hmm mikir keras
Oke mi, oke cukup sampe sini dulu aja. Ini aja masih susah banget dilaukin, pelan pelan ya mi hehe
Semoga Umi selalu jadi madrasah pertama untukku ya, semoga besok aku bisa kayak Umi juga (hua kalo ini sih beda banget, mau kayak Umi susah cuy) wkwk
Tapi tolong di Amiin kan saja ya :)
Orangtua sudah menjadi fitrahnya untuk menjadi sosok teladan untuk anaknya Kita sebagai anak akan menjadikan orangtua kita sebagai acuan dalam bertindak dan bersikap. Sangatlah wajar jika karakter dan kepribadian orangtua akan menurun kepada anaknya.
Hal yang paling penting dalam pendidikan anak adalah, bagaimana orangtua itu menanamkan keimanan kepada Allah terhadap anaknya. Anak anak tidak hanya dapat diberi tahu lewat lisan, namun harus dengan cara memberikan contoh sehingga mereka bisa meneladaninya. Untuk bayi dibawah umur 5 tahun, memorinya akan sangat ia pakai untuk mencontoh apa apa yang ia lihat dan dengarkan, jadi nggak jarang dan ga aneh tuh bayi bayi kecil yang udah bisa berperilaku kayak orangtuanya.
Ada sebuah kalimat yang masih aku ingat sampai sekarang, entah aku lupa baca dibuku apa hehe
"Jadikanlah orangtua kita adalah panutan, bukan oranglain. Jadilah orangtua yang pertama mengajarkan tentang agama kepada anaknya, karna ketika anak mengamalkannya maka orangtuanya pun akan dialirkan pahala dari amalan tersebut"
Sebagai orangtua, gamau kan madrasah pertama anaknya adalah oranglain?
Aku punya ponakan nih (masih punyanya ponakan karna belom punya anak sendiri hehe), namahya Azallia umurnya 3 tahun, lagi masa masa meniru apapun yang dia lihat dan dengar. Kita sebagai yang tua harus bener bener banget deh hati hati dalam berakhlak. Gamau kan nanti akhlak buruk ditiru sama anak anak kita? Jangan sampai lah ya. Udah gitu, jurus paling ampuh yang selalu Azalia lakukan adalah "kata bunda". Dari situ pun akhirnya aku berfikir, dia bener bener sadar bahwa teladan anak anak adalah orangtuanya.
Okey, aku gamau cerita panjang lebar tentang Azalia atau mendidik anak, karna aku pun masih banyak belajar untuk menjadi calon orangtua hehe. Cuma pengen cerita sedikir tentang apa yang pernah Umii nasehatin buat aku.
Entah sejak kapan, atau mungkin memang sejak dulu kala aku selalu mudah cerita tentang apa yang ku alami dan kalo minta pendapat atau nasehat tuh sama Umi. Ya walopun Umi nih suka ngirit bicaranya, tapi suka jadi keinget terus gitu sih ya.
Jadi waktu itu, Umii pernah ngajarin tentang tidak berlebihan terhadap segala sesuatu. Disini khususnya adalah dalam hal rizki. Rizki itu bukan hanya sekedar materi, tapi rizki itu adalah segala hal yang Allah berikan kepada kita. Jadi kata Umi kita ga boleh terlalu nggak atau terlalu iya. Maksudnya terlalu nggak itu, belom dapet apa apa udah bilang nggak mau atau kalau terlalu iya itu, serasa kita sudah mendahului takdir Allah, kayak udah yakin pasti dapet gitu. Nah itu kan sama sama hal yang berlebihan, jadi nggak boleh gitu karna Allah tidak menyukai orang yang berlebih - lebihan.
Allah itu udah ngasih rizki yang terbaik untuk HambaNya versi Allah, bukan versi kita. Karna Allah yang lebih mengetahui, kita sebagai hambaNya gatau apa apa tentang itu. Dan yang namanya rizki, itu ga dateng dengan sendirinya tapi perlu kita jemput dengan ikhtiar. Bisa jadi hal yang sangat kita inginkan bukanlah rizki kita, tapi hal yang kita hindari itu rikzki kita. Makanya Umii bilang jangan kita menhindari berlebihan dan menyukai berlebihan. Oke mi, oke. (masih oke doang, prakteknya susah bener ini sebenernya buat aku)
Terus Umi juga bilang, "Kalo minta sama Allah jangan ngedrel (bahasa jawa ini, aku juga susah bahasainnya apa itu, mungkin kayak maksa gitu). Mau minta sama Allah itu nggak maksa, nggak mendikte". Terus kalo misal pengen sesuatu yang itu tep boleh minta itu kan? Boleh, tapi tidak maksa harus itu. Ya berdoa itu perlu detail, tapi tidak mendikte dan memaksa.
Daan, aku oke oke lagi aja. Hmm mikir keras
Oke mi, oke cukup sampe sini dulu aja. Ini aja masih susah banget dilaukin, pelan pelan ya mi hehe
Semoga Umi selalu jadi madrasah pertama untukku ya, semoga besok aku bisa kayak Umi juga (hua kalo ini sih beda banget, mau kayak Umi susah cuy) wkwk
Tapi tolong di Amiin kan saja ya :)
Komentar
Posting Komentar